Semangat Saya

Hari ini adalah hari saya..
semangat ini adalah semangat saya...
cinta ini, cinta saya..
semua ini, milik saya...

tapi.. Allah lah yang memiliki saya.. pun semua yang terakui...

Minggu, 08 Maret 2009

Teman tanpa syarat

Di sebuah negeri antah berantah ada sebuah perbincangan antara dua orang yang baru bertemu.
“Aku mau jadi temanmu dengan syarat.” Ujar salah seorang kepada lawan bicaranya.
“Apa syaratnya?” Tanya orang itu
“Kalau kamu jadi temanku, kamu harus ada di kala aku membutuhkanmu, kamu mau menolongku, memberi hutang kepadaku, mau mengusap air mataku… “
“Kalau aku tidak bisa bagaimana?”
“Kamu tak bisa jadi temanku…”

Apakah teman butuh syarat?
Aku berteman denganmu dengan syarat, jangan biarkan aku sendiri dan jangan pernah menyakitiku karena kamu tahu aku
Aku berteman denganmu dengan syarat, akan kau berikan pundakmu untuk aku menangis
Aku berteman denganmu dengan syarat, pinjamkan aku uang yang banyak, maka kau temanku.
Aku berteman denganmu dengan syarat, berikan aku kejutan menyenangkan, kebahagiaan yang indah.
Aku berteman denganmu dengan syarat, kau jawab semua sms-ku, kau angkat telepon aku dan tak kau biarkan aku sendiri.
“Inikah syarat itu?”
“Iya”
“Harus kupenuhi?”
“Iya”


****
Hei, Fren…gimana kau menanggapi pernyataan tadi? Tentu kamu ga setuju, kan? Hitungan banget, sih jadi orang…hehehehe. Atau kemudian kamu jadi berpikir… Jangan-jangan secara tersirat, kamu telah mengajukan berbagai macam syarat itu kepada teman-teman kamu. Atau karena berbagai pengalaman yang ada, kamu merasa cinta yang hadir dalam pertemanan tidaklah tulus hingga harus ada syarat-syarat itu? Hmm, silakan direnungkan…

Apakah arti sebuah teman bagimu? Pertanyaan itu timbul di benak saya begitu saja. Teman adalah sosok-sosok terdekat saya setelah keluarga. Ada sebuah ikatan batin hingga saya bisa berteman dengan banyak orang. Semacam chemistry. Saya sangat senang berteman, saya menerima semua ajakan pertemanan dari mana pun, dari dunia maya sekalipun. Tapi, apakah saya orang yang menyenangkan? Entahlah… apakah ukuran punya banyak teman berarti dia menyenangkan. Lalu, apakah saya tulus? Tanpa syarat? Entahlah…

Saya coba menelusuri pertemanan saya dengan beberapa orang, teman tanpa batas ruang dan waktu, dalam arti, walau udah sama-sama ga satu sekolah, walau udah sama-sama ga satu kantor, kami tetap berteman. Saya pernah menyakiti mereka, saya pernah bikin mereka menangis, kadang sikap saya ke mereka sangat menyebalkan. Pernahkah saya sakit hati kepada mereka? Pernah… Bahkan saya pernah sebal dengan mereka. Pertengkaran menjadi makanan sehari-hari saya dengan mereka saat itu.

Tapi, apakah mereka masih jadi teman saya? Ya, hingga hari ini kami masih bersama, baru saja kami berbuka puasa bersama. Kami bertahan beberapa tahun terakhir dengan berbagai macam pernik-pernik. Tanpa ada pernyataan, kami akan kembali berbagi, menegur kesalahan kami, mencari titik terang, menginap bersama. Mengirim sms-sms manis atau hikmah. Secara tersirat, kami saling menyayangi tanpa berusaha untuk mengungkapkan.

Kemudian, teman saya pun bertambah, dan terus bertambah… Alhamdulillah, ada yang bertahan, ada yang numpang lewat, ada yang mucul dan menghilang. Mereka membagi banyak hal kepada saya. mereka memberikan ketulusan indah. Mereka memuji saya, memberi oleh-oleh, memberi hadiah, mentraktir saya, mengirim sms, mengirim email, menelepon, mengkritik, memotivasi, memarahi, mengingatkan… Semua teman yang saya kenal di mana pun… terima kasih, semoga Allah membalasnya…

Sementara saya masih apa adanya diri saya. Saya masih suka lupa tanggal lahir teman saya, lupa mengingat janji saya, lupa membalas sms dan mungkin tak hadir ketika teman saya butuh cerita.
Saya cuma manusia, tak bisa memberi banyak dengan keterbatasan saya, tapi saya akan sangat gembira, ketika saya mampu untuk lebih baik memperbaiki hubungan pertemanan saya.

Saya akan tersanjung ketika teman saya “marah-marah” menunjukkan dirinya tengah memarahi orang, curhat dengan bebasnya, menunjuk saya mendengarkan keluh kesahnya pada batasan tertentu.
Saya akan ikut senang ketika teman saya mau menerima sedikit pemberian saya, karena sering dengan sok tahunya saya mengirim “barang unik/aneh” ke teman-teman saya. Saya akan ikut sedih, ketika teman saya bersedih, menangis, marah dan kesal… dan ingin ikut berempati.

Teman, mungkin saya tak hadir ketika kamu butuh saya, tolong maafkan saya…
Teman, mungkin saya hanya bisa mendengarkan dan tak banyak membantu ketika di tengah kesulitan, tolong maafkan saya.
Teman, saya sangat jahat membuatmu menangis, sakit, marah, kesal. Mulut saya mungkin telah jahat menghina, tolong maafkan saya,
Teman, saya nakal, iseng tidak pada tepatnya, tolong maafkan saya
Teman, saya pernah menuntutmu lebih ketika saya bersedih dan membutuhkan kamu hadir, padahal kamu sudah meng-sms saya..
Teman,,, Terima kasih,,, untuk semuanya...


“Siapa saja yang tulus rasa persaudaraannya dengan saudaranya , maka dia akan menerima kekurangan saudaranya itu, menutupi keburukannya dan memaafkan kesalahanya.”

“ Ketahuilah, bahwasannya rasa persaudaraan itu akan diuji ketika dalam kesulitan. Janganlah kamu berbicara kecuali hal yang benar. Ingatlah kebaikan saudarimu dan lupakanlah keburukan-keburukannya “

Tidak ada komentar: