Semangat Saya

Hari ini adalah hari saya..
semangat ini adalah semangat saya...
cinta ini, cinta saya..
semua ini, milik saya...

tapi.. Allah lah yang memiliki saya.. pun semua yang terakui...

Selasa, 31 Mei 2011

Fiqih Prioritas -Yusuf Qardhawi-



DI ANTARA konsep terpenting dalam fiqh kita sekarang ini ialah
apa yang sering saya (Yusuf Qardhawi) utarakan dalam berbagai buku saya, yang
saya namakan dengan "fiqh prioritas" (fiqh al-awlawiyyat).
Sebelum ini saya mempergunakan istilah lain dalam buku saya,
al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf, yaitu
fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a'mal).
Yang saya maksud dengan istilah tersebut ialah meletakkan
segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum,
nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan
harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari'ah yang shahih,
yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh
akal.
"... Cahaya di atas cahaya..." (an-Nuur: 35)
Sehingga sesuatu yang tidak penting, tidak didahulukan atas
sesuatu yang penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan
atas sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang tidak kuat
(marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan
sesuatu "yang biasa-biasa" saja tidak didahulukan atas sesuatu
yang utama, atau yang paling utama.


1. Kebutuhan umat kita sekarang akan fiqh prioritas
Saat ini umat Islam berada di antara jalan-jalan yang penuh kebimbangan. Umat Islam belum memiliki pemahaman yang komprehensif dalam beraktifitas dalam kehidupan sehari-hari. Urusan-urusan yang tidak penting dan tidak mendesak cenderung lebih diutamakan daripada urussan-urusan yang penting dan tidak mendesak, juga mengutamakannya dari pada urusan-urusan yang mendesak dan penting.

Islam mengajarkan seluruh tata cara beramal dalam kehidupan ini, termasuk dalam hal-hal yang membutuhkan skala prioritas. Dengan kata lain, umat Islam perlu memahami tentang aktifitas-aktifitas yang wajib dan mendesak untuk didahulukan dan juga perlu mengetahui hal-hal yang diahirkan dari keseluruhan aktifitas-aktifitas. Pemahaman ini (fiqh) mutlak dibutuhkan agar umat Islam mampu mengerjakan seluruh kewajiban-kewajibannya secara optimal dam mampu meninggalkan larangan-larangan Alah SWT secara bertahap.

Kasus yang sering terjadi di kalangan umat Islam saat ini adalah banyaknya dari mereka yang mendahulukan perkara-perkara tidak penting dan tidak mendesak di atas perkara-perkara yang mendesak dan penting. Pembangunan di bidang kesenian dan hiburan lebih diutamakan daripada pembangunan pendidikan dan kesehatan. Pengembangan aspek jasmaniah lebih diutamakan daripada aspek-aspek rohaniah. Dengan demikian, bila umat Islam tidak memiliki pemahaman yang komprehensip tentang urutan amal maka kemajuan Islam tidak akan pernah tercapai.

2. Hubungan antara fiqh prioritas dan fiqh lainnya
Fiqh prioritas memiliki hubungan yang sangat erat dengan fiqh lainnya terutama fiqh pertimbangan (muwazanah). Kaitannya dengan fiqh muwazanah itu dapat dilihat dari peranan pentingnya yaitu :
- Memberikan pertimbangan antara berbagai kemaslahatan dan manfaat dari berbagai kebaikan yang disyariatkan
- Memberikan pertimbangan antara berbagai bentuk kerusakan , mudharat, dan kejahatan yang dilarang oleh agama
- Memberikan pertimbangan antara maslahat dan kerusakan, antarakebaikan dan kejelekan apabila dua hal yang bertentangan ini bertemu satu sama lain

Kemaslahatan itu ada tiga macam yaitu kemaslahtan yang mubah, kemaslahatn yang sunnah, dan kemaslahatan yang wajib. Demikian juga dengan kerusakan ada dua macam yaitu kerusakan yang makruh dan kerusakan yang haram. Dari berbagai pertimbangan tersebut dapat dirumuskan urutan amal (prioritas) mana yang lebih didahulukan atas satu dengan yang lainnya.

3. Memprioritaskan kualitas atas kuantitas
Al-Qur’an memberikan perhatian yang besar dalam hal kualitas di atas kuantitas, walaupun keduanya merupakan hal yang diharapkan. Apabila dalam kondisi-kondisi tertentu, maka umat Islam harus mampu mendahulukan kualitas daripada kuantitas.
Betapa banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan bahwa kuantitas (jumlah yang banyak) tanpa kualitas adalah suatu hal yang sangat buruk, misal ada beberapa ayat yang menyatakan “betapa banyak manusia yang tidak beriman, betapa banyak manusia yang tidak bersyukur, kebanyakan mereka tidak mengetahui, kebanyakan mereka tidak memahaminya, dll”.

Saat ini umat Islam dihadapkan pada persoalan tentang kebanggaan akan kuantitas, sedangkan kualitas (isi/substansi) cenderung tidak diperhatikan. Fenomena ini dapat memukul mundur Islam dalam pergulatan peradaban. Ini adalah suatu hal yang perlu disikapi secara lebih serius oleh umat Islam itu sendiri.
Sirah Rasulullah SAW juga mengisyaratkan perlunya perhatian dalam masalah kualitas daripada kuantitas.

4. Prioritas ilmu atas amal
Dalam masalah ini, kita perku mengetahui bahwa ilmu adalah prioritas daripada amal karena ilmu akan menuntun dan memotivasi timbulnya suatu amal. Sedangkan amal tidak mampu mendatangkan ilmu. Selain itu, pemahaman juga harus didahulukan daripada hafalan belaka, juga prioritas atas maksud dan tujuan (hal substantif) ketimbang penampilan luar .

5. Prioritas dalam bidang fatwa dan Da'wah
Di dalam bidang fatwa dan dakwah, kita perlu memprioritaskan persoalan yang ringan dan mudah atas persoalan yang berat dan sulit. Berbagai nash memberikan petunjuk pada kita bahwa perkara-perkara yang mudah dan ringan lebih dicintai oleh Allah SWT. Nabi SAW ketika memulai dakwahnya sangat memberikan kemudahan dan keringanan bagi umat. Ketika ditanyakan tentang suatu hal, maka beliau cukup memberikan defenisi-defenisi sederhana, mudah, dan tidak sulit. Beliau mengarahkan kemudahan untuk mengerjakan hal-hal yang wajib daripada hal-hal yang sunnat.

Islam mensyariatkan hukum-hukum yang khusus pada kondisi-kondisi yang darurat. Sebagai contoh bolehnya memakan makanan yang haram pada keadaan-keadaan darurat dan keadaan terpaksa. Di dalam berdakwah, dikenal istilah marhalah (pentahapan). Pengharaman khamar di dalam Al-Qur’an juga dilakukan secara bertahap. Segala bentuk perintah dan larangan dari Allah SWT harus melalui pentahapannya sehingga setiap muslim pada akhirnya mampu menyanggupi seluruh perintah dan menjauhkan segala larangan-Nya.
Ukuran yang benar dalam memperhatikan segala sesuatu harus berdasakan perhatian terhadap isu-isu yang disorot oleh al-Qur'an saja. Sehingga kita dengan mudah mengetahui manakah perkara yang diprioritaskan/disorot secara jelas oleh Al-Qur’an dan mana yang sedikit diperhatikan.
Di dalam buku Syaikh Yusuf yang lain (Kaifa Nata’amal ma’a Al-Qur’an Al-‘azhim), dikisahkan bahwa ada seorang ulama yang selalau membahas tentang thaharah (bersuci) secara mendetail dan terus menerus pada setiap waktu dan kesempatan beliau berceramah, sedangkan beliau sangat jarang dan seakan dan melupakan urusan-urusan jihad. Tindakan seorang da’I atau ulama yang sedemikian adalah tindakan yang jauh dari sorotan Al-Qur’an. Apabila diperhatikan dengan seksama, sorotan Al-Qur’an dalam masalah thaharah secara gamblang tidak lebih dari satu tempat saja dalam Surah Al-Ma’idah. Sedangkan masalah jihad selalu dibahas dalam hampir setiap surah di dalam Al-Quran. Inilah yang dimaksudkan tentang bagaimana kita memprioritaskan suatu hal sesuai dengan prioritas Al-Qur’an dalam mempersoalkan dan membahasnya.

6. Prioritas dalam berbagai bidang amal
Amal-amal yang disyariatkan kepada manusia juga memiliki tingkatan-tingkatan. Ada hal-hal yang perlu disegerakan dan diutamakan, dan ada juga hal-hal yang boleh diakhirkan. Adanya keharusan dalam memprioritaskan amal yang kontinyu atas amal yang terputus-putus, dan prioritas amalan yang luas manfaatnya atas perbuatan yang kurang bermanfaat, serta prioritas terhadap amal perbuatan yang lebih lama manfaatnya dan lebih lama kesannya.
Selain itu, prioritas amalan hati atas amalan anggota badan dan perbedaan tingkat keutamaan sesuai dengan tingkat perbedaan waktu, tempat, dan keadaan.

7. Prioritas dalam perkara yang diperintahkan
Adapun perkara yang pokok seperti keimanan dan tauhid kepada Allah, keimanan kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir adalah lebih utama diprioritaskan daripada perkara-perkara cabang seperti syariah. Tauhid dan keimanan yang benar akan membuahkan hasil berupa amalan-amalan yang benar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Amalan-amalan itu lah yang nantinya tertuang dalam hukum-hukum syariah bagi manusia.

Beberapa hal lain yang perlu mendapat prioritas adalah adanya prioritas fardhu atas sunnah dan nawafil, prioritas fardhu 'ain atas fardhu kifayah , prioritas hak hamba atas hak Allah semata-mata, prioritas hak masyarakat atas hak individu, prioritas wala' (loyalitas) kepada umat atas wala' terhadap kabilah dan individu.

8. Prioritas dalam perkara-perkara yang dilarang
Perkara yang dilarang juga memiliki tingkatan-tingkatan sebagaimana perkara-perkara yang diperintahkan. Dalam hal ini, umat Islam perlu memahami tentang perbedaan mendasar antara kekufuran, Kemusyrikan, dan Kemunafiqan yang Besar dan yang Kecil.

Selain memahami hal di atas, umat Islam juga perlu memahami adanya kemaksiatan besar yang dilakukan oleh hati manusia. Kemaksiatan tidak hanya berwujud lahiriah. Kemaksiatan hati yang merupakan kemaksiatan yang besar antara lain : kesombongan, kedengkian dan kebencian, kekikiran yang diperturutkan, hawa nafsu yang dituruti, riya’ (pamer diri), serta cinta dunia, cinta harta, kehormatan, dan kedudukan.

Tambahan lain bagi kemaksiatan adalah bid'ah dalam aqidah dan amalan. Bid’ah adalah sesuatu yang diada-adakan manusia dalam urusan agama. Sesungguhnya bid’ah memiliki banyak macamnya dan semuanya tidak berada dalam satu tingkatan yang sama dan begitu pula dengan orang yang melakukannya. Ada orang yang menganjurkan kepada bid’ah dan ada pula orang yang hanya sekadar ikut-ikutan dalam melakukan bid’ah dan tidak mengajak orang lain untuk melakukan bid’ah. Semua kelompok ini memiliki kaitan hukum yang berbeda.
Syubhat merupakan perkara yang berada satu level di bawah perkara-perkara kecil yang diharamkan, yaitu perkara yang tidak semua orang banyak mengetahuinya dengan jelas, atau dengan kata lain kehalalan atau keharamannya berada dalam keadaan yang samar-samar. Makruh merupakan bagian yang paling rendah dari sekian banyak perkara yang dilarang dalam agama. Makruh teridir atas dua jenis yaitu makruh tahrimi (lebih dekat kepada hal yang haram) dan makruh tanzihi (lebih dekat kepada hal yang halal).

9. Prioritas dalam bidang reformasi
Perlunya memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem maksudnya ialah adanya perhatian yang besar pada upaya-upaya pembinaan pribadi sebelum membangun tatanan masyarakat. Semuanya harus dimulai dari pembangunan individu yang kelak akan membuahkan hasil yang lebih baik. Perlu diingat bahwa kumpulan-kumpulan individu yang telah terbangun dan terbina dengan baik pada akhirnya akan membentuk suatu komunitas / tatanan sosial kemasyarakat yang baik pula.

Pembinaan dan pendidikan individu yang dimaksudkan di sini adalah pembinaan manusia mu’min, yang dapat mengemban misi dakwah, bertanggungjawab menyebarkan risalah Islam, tidak kikir terhadap harta benda, tidak sayang kepada jiwanya dalam melakukan perjuangan di jalan Alah, dan pada saat yang bersamaan ia memberikan teladan dalam menerapkan nilai-nilai agama terhadap dirinya sekaligus menarik orang lain untuk melakukan perbuatan yang sama.

Dengan memahami prioritas dalam bidang reformasi, umat Islam akan semakin mudah mencapai tujuannya dalam memperbaiki keadaan. Jadi, bila ingin membangun sebuah sistem kekhalifahan yang luas dan komprehensif maka perlu melihat skala prioritas yang utama, yakni adanya pembinaan pribad-pribadi sebelum berkampanye lebih jauh tentang sistem khilafah yang tidak semua orang cepat memahaminya.

10. Fiqh prioritas dalam warisan pemikiran
Imam al-Ghazali memberikan perhatian dalam masalah Fiqh Prioritas. Di antara pemikirannya yakni menyoroti betapa banyak orang-orang yang tertipu (ghurur) dalam melakukan berbagai aktifitas dan banyaknya orang yang timpang dalam membuat peringkat amalan syariah.
Ulama lain yang mempunyai kepedulian terhadap Fiqh Prioritas adalah Ibnu Taimiyah, misalnya dalam hal perbedaan keutamaan amal karena perbedaan keadaan dan pertentangan antara kebaikan dan keburukan.

11. Fiqh prioritas dalam da'wah para pembaru di zaman modern
Beberapa ulama pembaru di zaman modern yang memiliki perhatian dalam masalah ini adalah Imam Muhammad bin Abd al-Wahhab, Az-Za’im Muhammad Ahmad al-Mahdi, Sayyid Jamaluddin, Imam Muhammad Abduh, Imam Hasan al-Banna’, Imam al-Maududi, as-Syahid Sayyid Quthub, ustadz Muhammad al-Mubarak, Syaikh al-Ghazali.

Kajian Fiqh Prioritas yang ditulis oleh Syaikh Yusuf ini dilakukan oleh beliau secara mendasar, komprehensif, dan terperincisebagaimana yang dianjurkan oleh tokoh pembaharu Islam. Harapan Syaikh Yusuf semoga pemikirannya tentang Fiqh Prioritas ini dapat menjadi salah satu sumbangan dalam perkembangan pemikiran Islam di zaman modern saat ini. Satu hal penting yang menjadi catatan besar bagi kita, bahwa fiqh prioritas ini bukanlah sesuatu yang baru, bukan suatu yang diada-adakan di dalam Islam. Semua pembahasan di dalam buku tersebut dilengkapi dengan nash-nash yang shahih, juga disertai dengan pandangan-pandangan beberapa ulama terdahulu. Lebih jelasnya, silakan baca bukunya : FIQH PRIORITAS Yusuf Al-Qardhawi.

Wallahu a’lam

Ptujnjuk Jalan -Sayid Quthb-



Para pelopor dan kader dakwah tentulah perlu kepada panduan-panduan di
sepanjang perjalanan mereka; panduan yang memberikan tentang tabiat peranan
mereka, hakikat tugas mereka dan inti sari tujuan akhir perjalanan mereka dan juga
mengenai garis permulaan di dalam perjalanan jauh itu seperti juga para pelopor
dan kader itu perlu mendapat panduan secukupnya mengenai - jahiliyah yang
sedang berpengaruh di dunia sekarang di dalam suasana yang bagaimanakah
mereka boleh berjalan seiring dengan jahiliyah dan di dalam suasana yang
bagaimanakah pula mereka harus memisahkan diri; bagaimana caranya melayani
pihak jahiliyah itu dengan menggunakan kaedah Islam dan dalam topik apakah
yang perlu dibicarakan? Juga dari mana dan bagaimanakah pula menimba bahanbahan
panduan itu?
Panduan-panduan itu hendaklah diambil dan ditimba daripada sumber asal
akidah ini iaitu Al-Quran dan juga dari arahan-arahan Al-Quran yang asasi juga
dari konsep yang telah dipancarkan oleh Al-Quran ke dalam jiwa para pelopor dan
kader terbilang dahulu, yang telah diberi penghormatan besar oleh Allah SWT
untuk mengubah bentuk sejarah umat manusia mengikut kehendak Allah.

Untuk para pelopor dan kader yang diharapkan dan ditunggu-tunggu
kelahirannya itu saya (Sayid Quthb) tuliskan PETUNJUK SEPANJANG JALAN ini.

Di awal Islam, Rasulullah SAW bertujuan membentuk satu generasi yang bersih hatinya,
bersih pemikirannya, bersih pandangan hidupnya, bersih perasaannya, dan mumi
jalan hidupnya dari sebarang unsur yang lain daripada landasan Ilahi yang
terkandung dalam Al-Quranul Karim.
Generasi sahabat-sahabat itu menerima panduannya daripada sumber yang
tunggal itu saja. Oleh karena itulah generasi itu telah berhasil membentuk
sejarah gemilang di zamannya.
Tetapi apakah yang telah terjadi kemudiannya?
Sumber-sumber panduan itu rupanya telah bercampur baur!
Sumber itu telah dimasuki oleh falsafah Yunani (Greek), cara berfikir dan
lojikanya, dongeng-dongeng Parsi dan pandangan hidupnya, cerita-cerita Israeliat
Yahudi, falsafah Ketuhanan ala-Kristian yang telah bercampur baur di dalam tafsir
Al-Quran dan ilmu Al-Kalam, dan juga telah dimasuki oleh saki baki peninggalan
tamaddun zaman lampau yang sukar dikikis.
Tugas utama kita ialah mengubah realiti masyarakat ini. Tugas utama kita
ialah mencabut realiti jahiliyah itu dari akar umbinya, realiti yang bertentangan dan
berlanggar secara prinsipal dengan aspirasi Islam dan dengan konsep Islam, realiti
yang menghalang kita dengan menggunakan kekerasan dan tekanan dari kita hidup
seperti yang dikehendaki oleh program Ilahi.

Diketahui-Nya bahawa keadilan sosial hanya akan dapat diwujudkan di
dalam masyarakat, dari sumber iktikad yang lengkap, yang menyerahkan segala
sesuatu kepada Allah SWT, sambil menerima dengan penuh kerelaan hati akan
semua yang ditentukan Allah SWT di dalam masalah pembahagian harta, dalam
masalah jaminan sosial untuk seluruh masyarakat; dan kepercayaan ini sebagai di
dalam hati pihak yang mengambil dan pihak yang diambil, dengan pengertian
bahawa mereka melaksanakan suatu sistem yang telah ditentukan oleh Allah SWT
dengan penuh harapan bahawa ketaatan, kepatuhan dan kebaktian yang
dilakukannya akan mendatangkan kebajikan dan kebaikan dunia dan akhirat.
Dengan demikian maka rasa tamak haluba dan dendam dengki terhadap sesama
anggota masyarakat tidak akan dapat bersarang di lubuk hati. Semua urusan
dijalankan dengan beres tanpa tekanan dan paksaan, tanpa ancaman dan ugutan.
Hati manusia tidak rosak dan jiwa mereka pun tidak akan bengkrap seperti yang
terjadi di mana sahaja di bawah sistem hidup yang berlandaskan kalimah tauhid LA
ILAAHA ILLALLAH.

Dasar teoritis yang menjadi asas Islam, di sepanjang sejarah umat manusia,
ialah dasar “TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH” (LA ILAAHA ILLALLAH)
dengan pengertian mengesakan Allah SWT dengan sifat-Nya sebagai TUHAN,
sebagai Penguasa, sebagai Pendidik, sebagai Pemerintah Yang Gagah Perkasa yang
mempunyai kuasa mutlak di dalam pemerintahan, Penegasan bentuk iktikad di
dalam hati, di dalam gerak-geri, di dalam bentuk ibadat dan juga di dalam bentuk
melaksanakan syariat-Nya di dalam kehidupan sehari-hari. Pengakuan “TIADA
TUHAN MELAI NKAN ALLAH” itu tidak akan ada di dalam kenyataan dan tidak
boleh dianggap sebagai “wujud” dalam segi hukumnya melainkan dalam
bentuknya yang sempurna seperti ini yang dapat memberikan kepadanya suatu
WUJUD yang sungguh-sungguh, yang boleh dianggap seseorang yang
mengucapkan syahadat TIADA TUHAN MELAINKAN ALLAH itu seorang Muslim
atau bukan Muslim.

Arti penjelmaan yang sebenar dasar ini dalam segi teori ialah bahawa
seluruh hidup manusia itu diserahkan dan dirujukkan kepada Allah SWT sematamata.
Mereka tidak boleh melakukan sesuatu urusan pun mengenai hidup ini dari
sisi diri mereka sendiri, bahkan mereka hendaklah menyerah dan
mengembalikannya kepada hukum Allah untuk mereka ikuti dan hukum Allah itu
hendaklah mereka kenal dan cedok dari sumber yang satu sahaja, sumber yang
berhak menyampaikannya kepada mereka, iaitu Rasulullah S.A.W. Ini dapat
dipastikan daripada rangkai kata yang kedua dari syahadat, iaitu pengakuan
bahawa “Muhammad itu ialah Utusan Allah” (Muhammadur Rasulullah).
Itulah dia dasar teoritis yang dapat dijelmakan oleh Islam. Dasar ini menjadi
dasar yang lengkap sempurna bagi kehidupan apabila ia dilaksanakan di seluruh
urusan hidup. Setiap orang Muslim menghadapi segala cabang hidup “individu”
dan “sosial”, baik di dalam mahupun di luar negara Islam, dalam hubungannya
dengan sesama anggota masyarakat Islam dan juga dengan masyarakat yang bukan
Islam.

Jadi, menurut penulis, bila ingin mewujudkan kembali lahirnya generasi muslim seperti para sahabat kita harus menekankan kepada pembangunan aqidah secara konsisten. Dan kegiatan ini tidak bisa diharapkan berlangsung dalam waktu singkat. Ia membutuhkan kesabaran untuk menjalankannya dalam waktu yang panjang. Para sahabat saja, di bawah bimbingan pendidik (murabbi) terbaik yi Rasulullah, memerlukan tidak kurang dari 13 tahun. Jika kualitas kita separuh para sahabat, maka kira-kira diperlukan waktu 2 x 13 tahun = 26 tahun. Kalau kualitas kita hanya sepesepuluh para sahabat, maka dibutuhkan waktu kira-kira 10 x 13 tahun = 130 tahun..!!!

Yang pasti penulis memandang bahwa inilah jalan sekaligus metode satu-satunya penegakkan Islam untuk melahirkan generasi pertama. Dan ini pulalah jalan sekaligus metode untuk mewujudkan Islam di tempat dan zaman kapanpun. Perhatikan tulisannya di bawah ini:

Inilah wujud (nature) agama ini, sebagaimana disarikan dari metode Quran Makki. Kita harus mengetahui wujudnya ini. Kita jangan mencoba merobahnya hanya untuk memenuhi keinginan sesaat yang kalah di depan bentuk-bentuk teori-teori manusia. Dengan bentuknya yang seperti ini, ia telah membentuk ummat Islam yang pertama. Dan dengan cara yang begitu pulalah ia akan membentuk ummat Islam setiap kali ia ingin untuk mengulang mengeluarkan ummat Islam sekali lagi ke alam nyata, sebagaimana Allah telah mengeluarkannya pertama kali.

Fiqih Dakwah -Jum'ah Amin Abdul Ajiz-


Definisi Dakwah
Apabila kita katakana”dakwah islamiah”, maka yang kita maksudkan adalah “risalah yang terkahir yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, sebagai wahyu dari Allah dalam bentuk kitab yang tidak ada kebatilan didalamnya, baik di depan atau belakangnya, dengan kalamNya yang bernilai mukjizat, dan yang ditulis didalam mushaf yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad, dengan sanad yang mutawatir, yang membacanya bernilai Ibadah.

Definisi dakwah : tinjauan bahasa dan istilah :
1. An-nida artinya memanggil
2. ad-du’a ila syar’I artinya menyeru
3. ad-da’wat ila qadhiyat artinya menegaskan atau membelanya, baik terhadap yang hak maupun yang bathil.

Dakwah yang kita maksudkan
Dakwah yang kita inginkan dan yang wajib bagi kaum muslimin untuk melaksanakannya adalah dakwah yang bertujuan untuk beorientasi pada:
 membangun masyarakat islam, sebagaimana para rasul Allah, yang memulai dakwahnya dikalangan masyarakat jahiliyah.Mereka mengajak manusia untuk memeluk agama Allah, menyampaikan wahyu-Nya kepada kaumnya, dan memperingatkan mereka dari syirik.
 Dakwah dengan melakukan perbaikan pada masyarakat islam yang terkena musibah. Seperti penyimpangan dan berbagai kemungkaran, serta pengabaian masyarakat tersebut terhadap segala kewajiban.
 Memelihara kelangsungan dakwah dikalangan masyarakat yang telah berpegang pada kebenaran, melalui pengajaran secara terus-menurus, pengingatan, penyucian jiwa dan pendidikan.




KEWAJIBAN YANG SYAR’I
Dakwah merupakan kewajiban syar’I, berdasarkan dalil-dalil sebagai berikut :
Firman Allah SWT,
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh pada yang makhruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah adalah orang-orang yang beruntung. (Ali imran : 104)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.(Al-Baqarah :159-60)
Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.( al-Maidah :63)

KEUTAMAAN DAKWAH
Melalui dakwah yang dilakukan oleh para ulama dan para aktivis untuk memperjuangkan agama ini, maka dengan ijin Allah, umat akan berhasil mencapai kejayaan, keagungan, dan kepemimpinan.Hal itu hanya bisa didapatkan dengan keikhlasan, kekuatan, keteladanan dan kecerdasan mereka.Dengan semua itu, Allah mengangkat panji kebenaran dan mewujudkan kebaikan, sehingga umat ini menjadi umat terbaik, yang senantiasa memerintahkan kebajikan, mencegah kemungkaran dan yang beriman kepada Allah.
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (fushilat :33)

KARAKTER DAKWAH KITA
Dakwah islam memiliki beberapa karakter yang membedakannya dari dakwah-dakwah yang lain, yaitu :
Rabaniyah, artinya bersumber dari wahyu Allah
Wasathiyah, artinya tengah-tengah atau tawazun
Ijabiyah, artinya positif dalam memandang ala, manusia, dan kehidupan
Waqi’iyah, artinya realistis dalam memperlakuan individu dan masyarakat
Akhlaqiyah, Artinya sarat dengan nilai kebenaran, baik dalam sarana maupun tujuannya
Syumuliyah, artinya utuh dan menyeluruh dalam manhajnya
‘Alamiyah, bersifat mendunia
Syuriyah, berpijak diatas prinsip musyawarah dalam menentukan segala sesuatunya
Jihadiyah, artinya terus menerangi siapa saja yang beranimenghalang-halangi islam, dan mencegahtersebarnyadakwah
Salafiyah, artinya menjaga orisinalitas dalam pemahaman dan akidah.
Inilah dakwah dengan berbagai karakternya yang membedakan dirinya dari dakwah-dakwahlainnya.
Dengan demikian, seorang dai harus mengetahui dan memahami metodologi dakwah, agar umat merasa puas dan yakin dengan dakwah kita seperti :
1. Penyampaian yang baik
2. Keindahan uslub
3. Targhib (member rangsangan) dalam kebenaran
4. Mempergunakan kebijaksanaan dan nasihat yang baik
5. bantahan dengan cara yang lebih baik
6. mempertinbangkan situasi dan kondisi
7. penggunaan sarana publikasi dan informasi yang paling modern
Oleh sebab itu, adalah sebuah keharusan bagi seorang dai untuk mengetahui apa yang ia katakan dan bersikap bijaksana terhadap apa yang ia dakwahkan.
Imam Al-‘aini berkata, “hikmah adalah ilmu yang mendalam dan meyakinkan.Mngajarnya adalah kesempurnaan ilmu dan memutuskan suatu permasalahan dengannya adalah kesempurnaan amal”.

MENGIKUT BUKAN MEMBUAT YANG BARU
Dalam berdakwah, kita selalu meneladani Rasulullah, sebagai pembawa rahmat dan hidayah. Kita ingin mengekuarkan manusia dari berbagai kegelapan menuju cahaya iman atas ijin Rabbnya, dari kekufuran menuju keimanan, dari kesesatan menuju petunjuk, dari kebathilan yang gelap gulita menuju kebenaran yang terang benderang, dari maksiat menuju taat, dan jalan hidup yang berbeda-beda menuju jalan Allah yang satu dan lurus.

FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN DAKWAH
inilah dakwah kita dengan nilai-nilainya yang luhur dan pemahamannya yang asli serta risalahnya yang abadi. Ia membutuhkan seorang dai yang sanggup memukul dengan penuh amanah berbagai masalah yang harus direalisir, agar dakwah ini sukses dan manusia pu n mau menerimanya, serta sampai pada tujuannya yang mulia. Diantara factor-faktor pendukung keberhasilan dakwah adalah sebagai berikut :
1. Pemahaman yang mendalam
2. Keimanan yang kuat
3. Kecintaan yang kukuh
4. kesadaran yang sempurna
5. kerja yang kotinu
Dalam rangka mencapai tujuan yang mulia itu, seorang muslim harus bersedia menjual diri dan hartanya kepada Allah, sampai dia tidak memiliki apa-apa.Dia menjadikan dunia hanya untuk dakwahnya, demi untuk keberhasilan akhirat.

SARANA DAKWAH DAN REALISASI TARGET
Dengan pemahaman yang benar terhadap dakwah, kita berupaya melaksanakan pemahaman ini agar terjelma dalam kehidupan yang nyata, dan prinsip-prinsip yang dilaksanakan dapat direalisasikan dan dirasakan pengaruhnyaoleh manusia.hal ini dilakukan melalui upaya untuk merealisasikan target-target berikut ini :
Ishlah An-nafs (perbaikan jiwa), sehingga menjadi muslim yang kuat fisiknya,bersih akidahnya, benar ibadahnya, selalu berjihad melawan hawa nafsunya, memperhatikan waktunya, teratur kehidupannya, dan bermanfaat untuk orang lain. Dengan demikian, anggota masyarakat akan terkondisikan untuk senantiasa berhubungan dengan Allah dan bermakrifat padaNya, sehingga terciptalah makna ubudiyah kepada Allah.
Membina rumah tangga islami dapat membawa keluarganya menghormati fikrohnya, memelihara adab islam dalam kehidupannya, memilih istri dengan baik, memenuhi hak dan kewajiban masing-masing, mendidik anak dan pembantunya untuk memahami prinsip-prinsip islam, agar keluarga tersebut menjadi miniature teladan bagi masyarakatyang kita cita-citakan.
Irsyad al mujtama’ ( member pengarahan kepada masyarakat)
Berdakwah kepada pemerintah untuk menerapkan syariat Allah dengan segala metode yang bijaksana dan akhlak yang islami.Ia menjadi tuntutan rakyat banyak yang diprakarsai oleh kelompok dan golongan, sehingga terwujudlah pemerintahan yang melaksanakan islam secara benar.Dengan demikian, dia melaksanakan tugasnya selaku pelayan umat, diberi upah oleh umat dan bekerja untuk kemaslahatan mereka dan yakin dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban islam serta tidak berbangga diri dengan kemaksiatan.
Berdakwah untuk mewujudkan persatuan islam, dimulai dengan mengadakan kerjasama dengan Negara-negara islam dan mengadakan konsolidasi antara mereka untik mendakwahi rakyat dan pemerintahannya guna menerapkan islam dan memendang islam sebagai dakwah global.Hal itu dilaksanakan dengan kebijaksanaan dan nasihat yang baik, sehingga kita bisa mengembalikan khilafah yang hilang dan persatuan yang dicita-citakan.

KEPRIBADIAN ISLAM YANG TELAH HILANG
Tidak diragukan lagi bahwa yang hilang dari kaum mukmin adalah kepribadian muslim dan akhlak mereka, yaitu kepribadian ya g pernah dibina dan dibentuk oleh Rasulullah dan telah ditentukan kriterianya oleh Al-qur’an alkarim, yang diserukan melalui ayat-ayatnya.Harapa setiap dai adalah mengembalikan jati diri seorang muslim yang kini telah hilang.

BUIH HARI INI DAN TOKOH MASA LALU
Rasulullah telah menjelaskan tentang cirri-ciri bermental buih yang berlindung dalam naungan islam dewasa ini. Yaitu pribadi yang cinta dunia dan takut mati, pribadi yang mencintai dunia dan sangat terikat dengannya, serta tertipu dengan keindahannya. Sehingga berkubang untuk mencintai syahwat berupa wanita, anak-anak, harta yang melimpah ruah dari emas dan perak, kendaraan mewah, binatang ternak dan sawah ladang. Pribadi semacam ini tidak suka terhadap kematian, karena ia ingin memakmurkan dunianya dan menghancurkan akhiratnya. ia benci jika berpindah dari kemakmuran menuju kehancuran yang senantiasa menunggu dirinya.

PILAR-PILAR DAKWAH KAMI
Orang-orang sekuler telah menertawakan kita ketika mereka mempunyai anggapan bahwa pilar-pilar kedaulatan kita ini tergambar dalam slogan “ Satu tanah air, Satu nusa, Satu bangsa,dan satu kepentingan yang sama”.
Pernah datang suatu masa ketika seorang muslim berjalan dari Andalusia ke afrika utara, mesir, syam, dan irak, bahkan kenegara jauh seperti cina dan india, tanpa ada perasaan takut dan terasing.Dimana saja ia berada pasti ada yang menyebut asma Allah.

SIFAT-SIFAT DA’I
Sifat da’I yaitu ia dapat mendakwahi keluarga dekatnya, dapat pula menasehati orang-orang yang dikenal dari umat islam. Ia menjadikan Rasulullah sebagai suri teladan, bijaksanadalam dakwahnya, ihsan dalam menasehatinya, dan bermujahadah dengan cara yang lebih baik, maka dakwah bil haq itu lebih baik dan berpengaruh daripada dakwah bil maqal.
Wahai Da’I, bersikaplah lemah lembut kepada semua orang
Sesungguhnya termasuk keburukan seorang da’I terhadap dirinya sendiri adalah apabila ia memberatkan manusia, seakan dia melihat mereka dengan pengelihatan yang hina, atau dengan pandangan yang sombong, dan merasa paling tinggi.
Sifat santunnya mendahului ketidaktahuannya
Sesungguhnya sifat penyantunnya itu merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda kerasulan Rasulullah..sifat penyantunnya mendahului ketidaktahuannya, dan ketidaktahuannya yang sangat itu tidak menambahinya kecuali semakin bersikap penyantunnya.

SIKAP DAI TERHADAP MASYARAKAT
Seorang dai tidak boleh larut mengikuti langkah mereka,tidak juga larut dalam tradisi dan kebiasaan mereka yang bertentangan dengan syariat islam, kaidah-kaidah,hokum-hukum, dan adab-adabnya.Para dai tidak boleh terhina oleh kemauan mereka, hanya karena ingin menarik mereka kedalam dakwah.terkadang hanya karena tujuan itu saja seorang dai tidak hanya mengubah sebagian norma dan tradisi islam saja, bahkan sampai mengubah prinsip akidah bahkan system islam.

SYARAT-SYARAT UNTUK MELAWAN KEMUNGKARAN
1. Pastikan yang kita hadapi adalah benar-benar kemungkaran
2. Hendaknya kemungkaran yang tampak bukan suatu kesalahan yang dicari-cari
3. Hendaknya kemungkaran itu diketahui tanpa ijtihad
Allahu’alam bis shawab

Minggu, 29 Mei 2011

Lemparan Batu,, dan Pilihan..

Setelah sekian jam dilanda gempa yang dahsyat, kota Pensylvenia
mengalami porak poranda yang cukup hebat. Oleh sebab itu, pemerintah
setempat merencanakan untuk segera memulihkan kota. Suatu saat,
mandor bangunan yang memimpin renovasi pemulihan kota berjalan-jalan
sambil melakukan pengawasan terhadap pekerjaan perbaikan kota
tersebut. Saking asyiknya berjalan, sang mandor tidak melihat
beberapa langkah didepannya terbentang kabel listrik beraliran tinggi
yang siap merenggut nyawanya.

Pekerja yang berada dibeberapa meter dibelakangnya melihat bahaya
yang mengancam sang mandor, mereka pun kemudian mencoba
mengingatkannya dengan berteriak. Namun, teriakannya nyaris tidak
terdengar ditelan suara deru mesin dan traktor yang ada disekitar
tempat itu. Demi menyelamatkan mandornya, pekerja tersebut mengambil
batu kecil dan melemparkannya ke arah kepala mandor hingga berdarah.
Mandor kaget dan marah sambil melihat kebelakang, mencari siapa yang
telah melempar kepalanya.

Begitu sang mandor menoleh ke belakang, pekerja yang melemparnya
langsung angkat tangan dan menunjukk ke arah kaki sang mandor. Apa
yang dilihatnya membuat sang mandor shock, karena dua langkah ke
depan kakinya akan menyentuh kabel listrik yang bertegangan tinggi.
Untung ada pekerja yang melemparkan batu kearah kepalanya untuk
mengingatkan bahwa ada bahaya besar yang siap mengancam. Kepala sang
mandor memang berdarah, namun nyawanya tertolong.
***

Terkadang, dalam kehidupan ini telinga kita terlalu kebal terhadap
suara-suara peringatan yang bertujuan membawa kita ke arah kehidupan
yang lebih baik. Popularitas, ambisi, kesombongan, kekayaan, dan
segala kompetensi yang dimiliki sering membutakan nurani dan
menumpulkan ketajaman pendengaran kita terhadap alunan musik
instropeksi yang merdu.

Ada kalanya seseorang harus "dilempari batu" dulu untuk memosisikan
kembali agar tidak terjerumus lebih lanjut. Seorang rekan terpaksa
harus berurusan dengan pengadilan akibat cara memasukkan barang yang
dilakukannya tidak prosedural. Seorang saudara harus bolak balik
check up akibat sistem metabolisme tubuhnya sudah tidak seimbang.
Seorang kakak kelas harus digrounded dari penerbangan akibat
kelalaian melakukan SOP (Standard Operational Procedures). Bahkan,
seorang kolega sempat kehilangan orang yang dikasihinya akibat stres
yang dimunculkan dari kekurangan cinta yang diberikannya.

Beberapa contoh "lemparan batu" itu ternyata membuat instropeksi yang
mendalam untuk memosisikan kembali arti hidup dan tujuan bekerja yang
sebenarnya. Itulah sebabnya setiap "lemparan batu" seyogyanya
dimaknai sebagai bagian dari pengembangan kualitas diri yang optimal,
sekalipun lingkungan mungkin memaknai sebagai suatu kegagalan,
kejatuhan, maupun kehancuran. Kita jadi teringat apa yang dikatakan
oleh Confusius, bahwa "kita tidak pernah jatuh, melainkan karena kita
bangkit setiap kali jatuh".

"Apa yang terjadi di depan kita, maupun di belakang kita sesungguhnya
merupakan persoalan kecil dibandingkan dengan apa yang ada didalam
diri kita" demikian Oliver Holmes menambahkan dalam salah satu
orasinya.

Jadi, bukan peristiwa yang penting, namun respon terhadap peristiwa
itulah yang dapat memunculkan intisari pemaknaan hidup yang
sesungguhnya. Tanpa "lemparan batu", yakni ketika laboratorium Thomas
Alva Edison terbakar, mungkin saat ini kita masih hidup dalam
kegelapan. Kolonel Sanders pun harus mengalami "lemparan batu"
bertubi-tubi berupa penolakan, hingga sekarang kita bisa menikmati
gurihnya Kentucky Fried Chicken. Bahkan, Galileo Galilei harus kena
"lemparan batu" yang telak (dihukum mati) sekadar membuktikan bahwa
bumi ini bundar.

Bagi mereka, sebagaimana yang dikutip oleh pakar manajemen Peter F.
Drucker, lebih penting melakukan yang benar daripada sekedar
melakukan dengan benar. Ada harga yang harus dibayar. Namun, harga
ini ternyata tidak hanya mahal, tetapi memiliki nilai yang tinggi
sebagai sumbangsih yang berharga bagi pemikiran dan inovasi sejarah
umat manusia.

Ketika hari ini kita mendengar suara yang mengalunkan instrokpeksi
merdu maupun merasakan "lemparan batu" yang begitu terasa
menyakitkan, akankah dimaknai sebagai bagian dari dinamika hidup atau
sebagai kejadian yang harus dihindari?

"Life is Choice", demikian klaim seorang filsuf. Tidak mengherankan,
karena kita sebenarnya dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus
diputuskan, cepat atau lambat. Memaknai setiap "lemparan batu" pun
merupakan pilihan. Kita yang memilih mau menjadi pegawai atau
pengusaha. Kita pula dihadapkan pada pilihan hendak menjadi pemimpin
yang melayani atau dilayani. Pilihan untuk menjadi kepala keluarga
atau "dikepalai" keluarga. Pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga
atau ibu kerumahtanggaan. Hingga pilihan yang tidak kalah pentingnya
adalah mau menjadi manusia yang berguna atau tidak, sebab salah satu
anugerah besar yang diberikan Sang Pencipta adalah The Power of
Choice. Selamat memilih jalan menuju pemaknaan hidup yang optimal !!.

(dikutip dari "Setengah Isi Setengah Kosong" oleh Parlindungan Marpaung)
***

Terima kasih buat sahabat2 ku yang telah 'menyelamatkanku' dari 'sengatan listrik ribuan volt' di depan sana..=)
doing better!! ^^,v

Mimpi...

Hari ini aku berpikir bahwa orang yang sering sekali mengucapkan impiannya, ingin ini itu, dengan harapan rumus Alkemis terjadi di depan mata: serukanlah impianmu maka semesta akan mendukungmu, tapi selalu saja impiannya terbelokkan menjadi ini itu, lalu ...dia kembali sibuk memberi alasan ke semua orang bahwa dia tidak bisa mewujudkan impiannya karena ini dan itu, lalu dia kembali mengukir mimpi -atau titik goal lain- yang ingin dicapainya, membuatku tercenung. Ini bukan tentang aku. Tapi ketika aku bercermin, bukan tidak mungkin aku menjadi seperti orang itu, jika aku tidak menentukan fokus impianku, lalu mulai merayap menggapainya (atau kadang melompat jika ada tenaga ekstra).
Ada beberapa hal penting yang kusarikan dari pemikiranku tentang sobatku ini.
Satu. Jika kamu terlalu banyak bermimpi, sementara kamu hanya punya dua tangan dan dua kaki dan satu kepala yang bisa menjadi sarana perwujudannya, maka kamu harus menyeleksi mimpimu, atau berbagi impian pada orang lain sehingga impian itu menjadi impianmu dan orang lain, tapi ketika impian itu terwujud kamu tetap bisa tertawa dan bersuka cita. Itu namanya delegasi mimpi.
Dua. Jika kamu terlalu sering berganti mimpi, ingin jadi ini ingin jadi itu, maka tenagamu akan terkuras habis untuk memacu di saat pertama (mesin pada saat dipanaskan pasti butuh tenaga yang lebih besar daripada jika sudah stabil), lalu ketika ujudnya pun belum nampak, lalu dengan mudahnya berganti mimpi, habis juga nanti persediaan tenaga -apalagi waktumu. Umurmu adalah penandanya.
Tiga. Jika kamu terlalu muluk bermimpi, bahwa di semesta yang tanpa batas ini kamu bisa jadi ini itu, maka pijaklah tanah, letakkan tangan di dada, dan ingatlah ini: setiap orang punya porsi untuk melakukan sesuatu: ada karunia untuk bernubuat, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk menulis... hanya sedikit sekali orang yang bisa melakukan semua hal dengan sempurna, tanpa dia harus mengorbankan orang yang dia cintai. Maka, berdamailah dengan kenyataan bahwa kamu adalah manusia biasa.
Empat. Jika kamu terlalu yakin akan mencapai mimpimu, ingatlah bahwa Tuhan adalah penentu utamanya. Berbaik hatilah padaNya, rebut hatiNya, jangan terlalu ribut dengan impianmu sehingga kamu lupa merayuNya untuk mewujudkan mimpimu. Tentu saja, Dia tahu jauh lebih banyak daripadamu, yang hanya tahu mengira-ira.
Lima. Jika kamu menganggap orang yang tidak berani bermimpi itu orang bodoh, maka pukullah kepalamu. Bahkan kamu lebih bodoh karena menyimpan mimpi ini untuk dirimu sendiri, tidak berbagi dan membahagiakan orang dengan indah warna warni mimpi dan serunya usaha pencapaiannya.
Jadi, apakah salah jika bermimpi? Tentu tidak! I'm a dreamer. Saya mendukung impian. Hanya...bermimpilah sesuatu yang benar-benar kamu usahakan kamu capai, dan jangan mengucapkan impianmu setengah sadar!
(Mencoba untuk share artikel yg dibuat oleh Silvi Utomo,,)


Hmm... Allah-ku... Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu... berikanlah kekuatan u/ pemimpi2 muda ini dalam mengejar mimpi2 luar biasanya... u/ Allah dan Rasulnya,,, serta keluarganya...