Semangat Saya

Hari ini adalah hari saya..
semangat ini adalah semangat saya...
cinta ini, cinta saya..
semua ini, milik saya...

tapi.. Allah lah yang memiliki saya.. pun semua yang terakui...

Minggu, 05 Juni 2011

Ayo.. berkembang.. dengan tantangan


Kisah menarik tentang upaya nelayan Jepang untuk mempertahankan ikan agar
tetap segar sampai ke tangan pelanggan.

Akhir-akhir ini sangat sedikit ikan yang ditangkap di perairan dekat
pantai sehingga nelayan harus pergi melaut ke tempat agak jauh. Akibatnya,
ikan yang diterima pelanggan sudah tidak segar lagi, harga pun jatuh.
Untuk mengatasi hal ini, paguyuban nelayan mengusahakan Freezer (lemari
pendingin) dibawa di atas perahu, agar sekalipun ikan tersebut telah mati,
namun tetap beku dan tidak busuk. Upaya ini ternyata tidak juga memuaskan
pelanggan penikmat ikan segar, mereka mengatakan ‘cita rasa’ ikannya telah
berkurang karena sudah mati dan dibekukan.

Langkah berikutnya yang ditempuh para nelayan adalah membawa tangki-tangki
yang agak besar ketika melaut. Ikan-ikan yang telah dijaring selanjutnya
dimasukkan ke dalam tangki-tangki dalam keadaan hidup. Mereka dijejalkan
dalam tangki tersebut. Setelah sekian lama, ikan-ikan tersebut
berdesak-desakkan dan saling bertabrakan, lama kelamaan ikan-ikan tersebut
lemas namun tetap hidup. Namun masyarakat Jepang tetap tidak suka
menikmati ikan lemas, karena cita rasanya berbeda dibandingkan dengan ikan
yang tetap hidup.

Paguyuban nelayan Jepang pun kembali berpikir keras tentang bagaimana
supaya ikan yang ditangkap tetap hidup dan segar. Usaha berpikir keras
ternyata membuahkan ide yang luar biasa. Kini ketika para nelayan melaut,
mereka tetap membawa tangki, namun jumlah ikan yang dimasukkan ke dalamnya
agak dikurangi. Uniknya lagi, setelah semua ikan dimasukkan ke tangki dan
siap dibawa ke pantai, para nelayan tersebut memasukkan seekor ikan hiu
kecil ke dalam tiap tangki. Ikan hiu tersebut memang memakan ikan-ikan
yang ada di dalam tangki, namun tidak banyak. Sementara ikan-ikan yang
lain lari
dikejar-kejar hiu yang berada dalam tangki itu. Alhasil, ikan-ikan
tersebut tetap dalam kondisi siaga dan takut yang tanpa disadarinya telah
tiba di pantai.Pelanggan pun merasa puas memperoleh ikan yang tetap hidup
dan segar.

“ Tantangan dan masalah merupakan tanda bahwa kita masih hidup. “ demikian
seorang filsuf bertutur.

Tantangan sesungguhnya membuat seseorang semakin matang dan dewasa dalam
perkembangan mental. Anak-anak yang terlalu enak menikmati fasilitas
orangtuanya, terkadang memiliki mentalitas yang rapuh ketika harus
berhadapan dengan situasi kritis dalam kehidupannya kelak. Karyawan yang
hanya menjalankan rutinitas pekerjaan tanpa ada dinamika kerja, tentu akan
mematikan semangat untuk mengembangkan kompetensi lebih tinggi lagi. Para
pemimpin yang manja dan berharap tidak ada dinamika pekerjaan akan
memunculkan kompetensi yang lemah dalam proses pemgambilan keputusan.

Tidak ada tantangan yang terlalu kecil untuk dilewati, demikian pula tidak
ada tantangan yang terlalu besar untuk dilewati. Semua liku-liku kehidupan
sesungguhnya telah diatur Sang Khalik sehingga tidak melewati batas
kemampuan kita sebagai manusia. Ketika tantangan kehidupan dirasa terlalu
ringan dan belum ada dinamika yang dirasakan, mungkin kita memerlukan
‘hiu-hiu kecil kehidupan’.

Disadur dari Buku Setengah Isi Setengah Kosong karya Parlindungan Marpaung.

Negara Jepang, dengan caranya sendiri mampu mengantarkan masyarakatnya menjadi masyarakat dengan peradaban modern. Rahasia pencapaian kemajuan mereka adalah Keizen. Kaizen adalah konsep yang diperkenalkan oleh Masaaki Imai, seorang pakar produktivitas perusahaan Jepang. Imai yang sejak tahun 1950-an mempelajari produktivitas industri Amerika kemudian menulis buku Kaizen, The Key to Japan s Competitive Success (1986) yang berisi rahasia keberhasilan perusahaan dan industri Jepang.

Strategi Kaizen merupakan konsep tunggal manajemen Jepang yang menjadi kunci sukses dalam persaingan. Kaizen berarti penyempurnaan secara kontinyu dan melakukan pengembangan secara total dengan melibatkan semua unsur dan potensi yang ada. Kaizen berorientasi pada proses dan usaha yang optimal, berbeda dengan manajemen Barat yang lebih berorientasi pada hasil.


Upaya pengembangan diri
Pengembangan diri sebenarnya merupakan proses pembaruan. Proses ini disebut oleh Stephen R. Covey dalam The 7 habits of Highly Effective People (1993) sebagai konsep asah gergaji. Pembaruan yang dilakukan, menurut Covey mesti meliputi empat dimensi yaitu: pembaruan fisik, spiritual, mental dan sosial/emosional.

Pembaruan fisik dapat dilakukan dengan melalui olahraga, asupan nutrisi, dan upaya pengelolaan stres. Pembaruan spiritual dapat diraih melalui penjelasan tentang nilai dan komitmen, melakukan studi atau kajian dan berkontemplasi atau berdzikir. Dimensi mental dapat diperbarui melalui kegiatan membaca, melakukan visualisasi, membuat perencanaan dan menulis. Adapun dimensi sosial/emosional diasah melalui pemberian pelayanan, bersikap empati, melakukan sinergi dan menumbuhkan rasa aman dalam diri. Dalam proses pengembangan diri diperlukan keseimbangan (tawazun) dan sinergi (tanasuq) untuk mencapai hasil optimal sebagaimana yang diharapkan.

Pengembangan diri tidak muncul begitu saja. Untuk meraihnya, diperlukan latihan dengan pola seperti spiral. Pola ini melatih kita untuk bergerak ke atas sepanjang spiral secara terus-menerus. Pola spiral ini memaksa kita untuk melalui tiga tahap kegiatan yakni belajar, berkomitmen, dan berbuat. Latihan ini harus terus-menerus berjalan secara berulang-ulang sampai kualitas dan produktivitas diri kita menjadi semakin tinggi.

Apa yang perlu dikembangkan?
Dalam melakukan pengembangan diri, kita memerlukan tolok ukur yang nyata dan aplikatif untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan yang telah kita capai . Konsep Sharpening Our Concept and Tools (SHOOT) yang dikembangkan oleh Lembaga Manajenen Terapan Trustco berikut ini dapat kita jadikan sebagai contoh daftar aktivitas pengembangan diri.

1.Memperluas pengetahuan mengenai fakta situasional. Jangan bersikap tak acuh dengan lingkungan sekitar;
2.Menjalin hubungan dengan orang lain;
3.Mengelola waktu secara efektif;
4.Menjaga keaktualan pengetahuan agar tidak tertinggal dan relevan. Jangan malas mencari pengetahuan baru;
5.Berlatih untuk mengumpulkan fakta dan membuat asumsi;
6.Membuat jurnal pribadi dengan menggunakan catatan harian agar jadwal kita menjadi teratur.;

Menentukan batas-batas kekuasaan dan otoritas yang kita miliki
1.Jelas agar kita dapat leluasa berkembang;
2.Mendengarkan dengan seksama;
3.Melakukan pengambilan keputusan dengan baik;
4.Membiasakan membuat teknik perencanaan (planning) yang baik.

Melakukan secara mandiri
Proses pengembangan diri yang kita lakukan tidak akan berjalan lancar apabila kita mengandalkan dukungan dari luar. Diperlukan sebuah etos tarbiah dzatiyah (self education) yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Pembelajaran yang harus dilakukan secara mandiri ini setidaknya mencakup tiga hal, yaitu: kemampuan membuat kurikulum atau agenda pribadi (self curriculum), kemampuan menjadi pembelajar yang cepat (speed learner), dan belajar secara mandiri (self learning).

Melakukan proses pengembangan diri memang tidak bebas hambatan, bahkan seringkali penuh kendala. Albert Ellis, psikolog dan penulis terkenal dalam bukunya Feeling Better, Getting Better, Staying Better (2001) memperkenalkan konsep terapi Rational Emotive Behavior Theraphy (REBT) . Konsep ini diperkenalkan oleh Ellis untuk membantu mengatasi hambatan dalam pengembangan diri. Beberapa hal yang disampaikannya berikut ini dapat menjadi bahan renungan kita:

Bicara adalah perkara mudah. Namun, hanya bicara yang diikuti oleh tindakan yang dapat membuat segalanya menjadi lebih baik.

·Anda tidak akan dapat mencapai kemajuan apabila selalu mengerjakan sesuatu dengan cara yang sama. Oleh karena, mengubah cara harus sering dilakukan meskipun dapat membuat anda merasa kurang nyaman.

·Anda harus berusaha menghentikan kebiasaan yang tidak baik dengan sungguh-sungguh.

·Semakin lama anda tenggelam dalam perilaku yang merugikan diri sendiri, semakin lama anda harus berjuang untuk menghentikannya.

·Menghindari tindakan yang anda kuatirkan akan gagal hanya dapat mengurangi kecemasan anda sementara. Dalam jangka panjang, penghindaran ini justru dapat berakibat buruk. Oleh karena itu lebih baik menghadapinya, ketimbang mengindar.

·Makin sering anda berfikir bahwa anda tidak berguna dan tidak berharga setelah mengalami kegagalan, semakin sulit anda mencapai keberhasilan.

·Kalau anda ingin menemukan kedamaian dan kegembiraan di dunia dan Insya Allah di surga nanti, atau ingin menjadi lebih baik, anda harus memaksa diri untuk melakukannya.

Sikap diri seperti di atas perlu dibangun karena menentukan gaya manajemen pengembangan diri anda. John Maxwell dalam The Winning Attitude; Your Key to Personal Success (1993) menyimpulkan bahwa sikap hidup menentukan tindakan, pola hubungan dengan orang lain, perlakuan yang kita terima dari orang lain, keberhasilan dan kegagalan, menentukan hasil akhir, cara pandang yang positif dan optimis. Ia juga menyatakan, sikap anda sekarang adalah hasil dari sikap-sikap anda selama ini.

Oleh karena itu sangat tepat jika kita selalu berpegang pada pesan Nabi saw dalam hadits riwayat al-Bukhari, segala aktivitas ditentukan oleh niat dan seseorang akan menuai hasil aktivitasnya sesuai dengan niatnya. Niat itulah sebenarnya yang merupakan benih dari sikap diri sehingga perlu dijaga kesucian dan kekuatannya. Dengan demikian, niat dapat memberikan energi positif dalam pengembangan diri. Nabi juga bersabda bahwa sangatlah beruntung seseorang yang senatiasa menyibukkan diri dengan kekurangannya, ketimbang mengorek kekuarangan orang lain. (QS. Ali Imran: 110-194) -maj. Ummi oleh Ust.Setiawan Budi Utomo-

Tidak ada komentar: